Mengenal Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Kraton Jogja

Lahir di Jogja tapi tidak begitu mengenal upacara adat dan budaya yang ada di Kraton Jogja seperti Hajad Dalem Tingalan Jumenengan itu rasanya seperti sayur kurang garam.

Hajad Dalem Tingalan Jumenengan
Hajad Dalem Tingalan Jumenengan (dok Tepas Tandha Yekti)

Menjadi orang Jawa itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak budaya dan adat yang seharusnya diketahui oleh masyarakat jawa, namun pada kenyataannya orang Jawa sendiri banyak yang belum mengetahuinya, termasuk diriku.

Aku lahir di pesisir pantai selatan Jogja, tepatnya di daerah Kretek Bantul dan kini tinggal Kaliurang yang merupakan salah satu wilayah di utara Jogja.

Ketika aku berada di Bantul dan di Kaliurang, aku sering sekali mendengar upacara adat yang namanya Labuhan. Ada 2 tempat labuhan yang aku ketahui yaitu di pantai parangkusumo maupun di lereng merapi. Namun hingga kini aku sendiri belum pernah mengikuti secara langsung upacara tersebut.

Beruntung, pada tanggal 17 Maret 2018 kemarin aku diundang ke Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat oleh Komunitas Malam Museum untuk lebih mengenal budaya jawa tentang “Hajad Dalem Tingalan Jumenengan“.

***

TIBA DI KRATON

Berdasarkan undangan yang dikirimkan kepadaku, acara akan berlangsung di Bangsal Kesatriyan pada pukul 09.30 – 12.30 WIB. Aku pun memacu kendaraanku dari rumah menuju kraton jogja sekitar pukul 08.45 WIB.

Setibanya di kraton, aku merasa bingung karena tidak ada satupun orang yang aku kenal. Aku mencoba tanya ke abdi dalem yang ada di sana. Rupanya aku salah tempat parkir kendaraan. Aku saat itu parkir di Bale Raos, bukan parkir di dekat masjid kraton. Haha..

Mengetahui salah parkir, akhirnya aku kembali memacu kendaraanku untuk pindah parkir ke sisi utara dan bergabung dengan teman-teman lain yang sudah tiba terlebih dahulu. Sebagai informasi, acara kali ini melibatkan beberapa komunitas seperti Komunitas Malam Museum, Generasi Pesona Indonesia (GenPI Jogja), Blogger, Influencer dan Admin Media Sosial Jogja. Tema dari acara ini sendiri adalah #NetizenMenyangKraton.

Kraton Jogja
Bangsal Kesatriyan Kraton Jogja (dok pri)

Setelah teman-teman semua selesai mengisi presensi kehadiran, akhirnya Mas Erwin selaku perwakilan dari Komunitas Malam Museum mengajak kami masuk ke dalam Kraton menuju Bangsal Kesatriyan.

Di Bangsal Kesatriyan sendiri kami diterima langsung oleh GKR Hayu, putri ke-4 Sri Sultan Hamengkubuwono X.

GKR Hayu
Gusti Kanjeng Ratu Hayu (dok pri)

Bagi yang belum tahu, GKR Hayu sendiri menjabat sebagai penghageng Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi baru di kraton yang bertugas menangani urusan IT dan dokumentasi.

HAJAD DALEM TINGALAN JUMENENGAN

Setelah diterima oleh GKR Hayu dan tim dari Tepas Tandha Yekti, aku dan teman-teman mendapatkan penjelasan mengenai budaya jogja yang namanya “Hajad Dalem Tingalan Jumenengan“.

Penjelasan mengenai Hajad Dalem Tingalan Jumenengan ini sendiri banyak diberikan oleh mas Bimo, selaku carik (sekretaris) Tepas Tandha Yekti. Menurut mas Bimo, Hajad Dalem sendiri merupakan upacara/perayaan/selamatan yang diselenggarakan oleh Sultan.

Tepas Tandha Yekti
Mas Bimo, Carik Tepas Tandha Yekti Kraton Jogja (dok pri)

Jika jaman dahulu Hajad Dalem yang dilakukan oleh Kraton cukup banyak, maka jaman sekarang Hajad Dalem dibagi ke dalam 3 kategori:

  1. Ulang Tahun Kenaikan Tahta
  2. Hari Besar Agama Islam
  3. Siklus Hidup

Mas Bimo menambahkan jika Hajad Dalem Tingalan Jumenengan sendiri masuk ke dalam kategori Ulang Tahun Kenaikan Tahta. Acara ini biasa dilakukan setiap tahun oleh kraton dengan mengikuti kalender jawa.

Banyak tahapan yang harus dilewati dalam Hajad Dalem Tingalan Jumenengan. Tahapan tersebut dimulai dari acara Ngebluk, Ngapem/mempersiapkan Ubarampe, Sugengan, hingga Labuhan.

Baca Juga:   The World Landmarks Merapi Park, Objek Wisata Baru di Yogyakarta

RANGKAIAN ACARA HAJAD DALEM TINGALAN JUMENENGAN

Sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh mas bimo, rangkaian acara dalam Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Kraton Jogja terdiri dari beberapa acara. Nah, kali ini aku mau mencoba membahas lebih detail sejauh sepenangkapanku ketika mengikuti acara kemarin.

NGEBLUK

Rangkaian upacara Hajad Dalem Tingalan Jumenengan dimulai dengan “Ngebluk”.

Pertama kali mendengar kata Ngebluk aku sedikit bingung, karena jujur saja walaupun aku orang jawa, namun aku belum tahu apa artinya kata ngebluk. Jangankan tahu artinya, mendengar saja baru kemarin. Haha..

Ngebluk sendiri rupanya kegiatan membuat adonan apem untuk kegiatan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan. Acara ini biasanya dilakukan pada tanggal 27 rejeb kalender jawa atau 2 hari sebelum Upacara Labuhan. Nah, untuk tempatnya, Ngebluk dilakukan di Bangsal Sekar Kedhaton yang berada di lingkup Keputren atau kediaman para Putri Raja.

Ngebluk
GKR Hemas memimpin acara Ngebluk (dok Tepas Tandha Yekti)

Pembuatan adonan apem hanya boleh dilakukan oleh para wanita yang dipimpin oleh Permaisuri Raja secara langsung, dalam hal ini oleh GKR Hemas dan para putri raja, kerabat dan juga abdi dalem keparak. Walaupun demikian tidak semua wanita boleh mengikuti acara ini. Wanita yang belum menikah atau sedang haid tidak boleh ikut dalam kegiatan Ngebluk.

Kenapa proses pembuatan adonan dinamakan dengan Ngebluk?

Rupanya pilihan kata Ngebluk itu muncul karena pada proses pembuatan dan pengadukan adonan apem menimbulkan suara “bluk”, jadi dinamakan Ngebluk.

hajad dalem tingalan jumenengan
Prosesi Ngebluk (dok Tepas Tandha Yekti)

Setelah adonan apem selesai, adonan dipindahkan ke dalam gentong besar yang dinamakan enceh dan didiamkan selama satu malam agar adonan mengembang. Adonan tersebut disimpan di Gedhong Prabayeksa untuk selanjutnya digunakan pada keesokan harinya pada acara ngapem.

NGAPEM

Prosesi kedua yang dilakukan dalam rangkaian acara Hajad Dalem Tingalan Jumenengan adalah “Ngapem“.

Sesuai dengan namanya, Ngapem merupakan proses untuk membuat apem, kue berbentuk bulat yang banyak ditemukan di pasar tradisional Jogja.

Prosesi Ngapem Kraton Jogja
GKR Hemas memimpin acara Ngapem (dok Tepas Tandha Yekti)

Kenapa Apem? Kenapa bukan kue lain?

Menurut tim Tepas Tandha Yekti, Apem sendiri dulunya berasal dari bahasa Arab “afwan” yang artinya maaf atau ampun. Nah karena lidah jawa, maka banyak yang menyebutnya dengan Apem.

Dengan demikian Apem digunakan oleh Kraton Jogja untuk menyimbolkan permohonan ampun kepada Sang Pencipta.

Karena merupakan acara adat Kraton, Apem yang dibuat dalam prosesi Ngapem memiliki 2 ukuran. Apem ukuran besar yang dinamakan dengan Apem Mustaka dan ukuran kecil seperti apem pada umumnya.

Apem Mustaka Tingalan Jumenengan
Apem Mustaka (dok pri)

Apem Mustaka memiliki ukuran 10x lebih besar dari apem pada umumnya dan disusun sesuai tinggi badan Sultan. Kalau tinggi badan Sultan Hamengkubowono X adalah 180 cm, maka silakan dihitung saja berapa banyak apem yang dibuat.

Apem yang dibuat pada tanggal 28 rejeb dan masih dipimpin oleh Permaisuri Raja dan juga putri raja. Setelah selesai, Apem disusun   dan disimpan selama 1 malam kemudian nantinya akan dibagikan keesokan harinya pada acara puncak yang bernama Sugengan.

Bersamaan dengan acara Ngapem, acara mempersiapkan Ubarampe untuk upacara Labuhan dilakukan para Abdi Dalem Reh Widyabudaya. Ubarampe yang disiapkan itu berupa seperangkat pakaian yang pernah digunakan Sultan, seperangkat pakaian untuk laki-laki dan perempuan, potongan kuku dan potongan rambut Sultan serta layon sekar.

SUGENGAN

Prosesi puncak dari Hajad Dalem Tingalan Jumenengan adalah upacara “Sugengan“.

Sugengan Tingalan Jumenengan Dalem HB X dilaksanakan setiap tanggal 29 Rejeb. Tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah untuk memohon doa dan pengharapan keselamatan, baik untuk Sultan, keraton, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia.

Baca Juga:   Jalan - Jalan Ke Stonehenge The Lost World Heritage Kaliurang
Uborampe setelah didoakan dalam upacara sugengan (dok Tepas Tandha Yekti)

Di waktu yang bersamaan, Abdi Dalem Widya Budaya memindahkan seluruh ubarampe labuhan yang akan dilabuh keesokan harinya dari Gedhong Prabayeksa ke Bangsal Kencana.

Ubarampe tersebut selanjutnya diinapkan semalam di Bangsal Sri Manganti untuk kemudian dilabuh ke tiga tempat yang berbeda yaitu Parangkusuma, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Khusus untuk tahun Dal yang terjadi 8 tahun sekali, prosesi Labuhan juga akan dilaksanakan di Dlepih Khayangan, Wonogiri, Jawa Tengah

LABUHAN

Nah untuk upacara yang satu ini sudah tidak asing ditelingaku. Maklum kecilnya jadi anak pantai selatan, jadi sering dengar upacara yang namanya Labuhan di Pantai Parangkusumo.

Labuhan Tingalan Jumenengan
Prosesi Labuhan Tingalan Jumenengan (dok pri)

Sayang, upacara Labuhan yang sebelumnya aku ketahui itu cuma satu bagian dari upacara Labuhan di tempat lain seperti di Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Bahkan khusus untuk tahun Dal yang terjadi 8 tahun sekali, prosesi Labuhan juga akan dilaksanakan di Dlepih Khayangan, Wonogiri, Jawa Tengah.

Masing-masing tempat prosesi labuhan biasanya memiliki tata cara yang berbeda sesuai dengan budaya masyarakat sekitar. Menurut GKR Hayu, kita boleh ikut semua prosesi yang ada video stremaingnya. Namun ada kalanya keterbatasan tempat membuat masyarakat tetap dilarang untuk mendekat.

JADWAL HAJAD DALEM TINGALAN JUMENENGAN TAHUN 2018

Jika sebelumnya aku sudah cukup banyak memberikan informasi tentang rangkaian acara kegiatan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Kraton Jogja, maka sekarang aku mau kasih informasi tentang tanggal kegiatan tersebut di tahun 2018.

Bagi masyarakat Jogja yang ingin ikut melihat dan mengikuti prosesi monggo siap-siap, tinggal 1 bulan lagi. Ya, Hajad Dalem Tingalan Jumenengan tahun 2018 akan dilaksanakan pada bulan April 2018.

  • 13 April 2018: Ngebluk
  • 14 April 2018: Ngapem
  • 15 April 2018: Sugengan
  • 16 April 2018: Labuhan Parangkusumo
  • 17 April 2018: Labuhan Merapi, Labuhan Lawu, Labuhan Ndlepih

Buat info lebih lengkapnya lihat gambar di bawah ya:

Agenda Hajad Dalem Kraton Jogja

***

Akhirnya setelah pulang dari Kraton Jogja kemarin, aku merasa menjadi seorang yang sangat kecil dari sisi Budaya Jawa. Padahal budaya jawa itu sangat besar dan banyak makna filosofisnya.

Terimakasih atas undangan yang kemarin diberikan. Jika ada kesempatan untuk diajak ikut acara budaya tentang kraton lagi, aku mau banget ini. Ternyata seru dan banyak ilmu yang bisa aku berikan untuk anak-anakku kelak.

Kraton Jogja
Sumringah di undang acara di Kraton Jogja (dok pri)

Oh iya, kalau teman-teman mau lebih dekat dengan kraton jogja bisa banget lho. GKR Hayu dan Tim Tepas Tandha Yekti Kraton Jogja sudah memfasilitasinya. Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan Website bisa kita gunakan untuk belajar tentang budaya jawa, khususnya kraton jogja. Makanya jangan lupa di follow itu akun sosial medianya kraton jogja @kratonjogja.

Untuk yang penasaran bagaimana prosesi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan, tungguin aja video terbaru kraton Jogja di Channel YouTubenya yang akan di publish akhir bulan Maret 2018 ini.

_

Narasumber : GKR Hayu, Mas Bimo  dan Tim Tepas Tandha Yekti

Situs Acuan: www.kratonjogja.id 

2 thoughts on “Mengenal Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Kraton Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.