“Ma, besok nitip anak-anak ya.. aku ada acara dari sore sampai malam bareng MPR RI.” 

“Ya gpp, lagian udah lama juga to ga ikut acara kumpul bareng blogger? Yang penting anak-anak dipamitin.” 

“Ok. Siap..”

Sekitar 2 tahun lalu, aku sempat mendapatkan kesempatan untuk bisa diskusi bareng MPR RI di Eastparc Hotel Yogyakarta. Namun sayang, waktu dan keadaan membuatku harus mundur teratur.

Saat itu aku masih ingat betul, alasanku tidak dapat bergabung adalah karena aku baru saja mendapatkan satu anggota keluarga baru. Jadi cukup berat jika harus pergi meninggalkan istri dan dua orang anak yang masih kecil.

Oke, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita sambut hari baru… Wkwkwk…

Lanjut ya..

Seakan tidak mau mengulangi kejadian dua tahun lalu ketika tidak dapat hadir di acara “Netizen Jogja Ngobrol Bareng MPR RI“, maka ketika pada hari senin siang aku mendapatkan email masuk terkait undangan Netizen Gathering MPR RI 2018, aku langsung mengabari istriku untuk meminta ijin biar bisa ikut acara.

Ya, istriku akhirnya mengijinkan karena memang dia juga tahu apa yang terjadi 2 tahun lalu. Namun dia cuma minta agar anak-anak dipamitin.

Ngomong-ngomong ya.. pamit sama anak-anak itu susah lho.. apalagi sama anak lanang yang umurnya baru mau 3 tahun. Tiap mau pergi pasti pengen ikut. Sampai-sampai kaki ayahnya dipegangin sambil ngesot-ngesot.. kan jadi ga tega.. Hehe..

Berangkat Gathering

Selasa sore tanggal 4 Desember 2018 hujan gerimis turun di Yogyakarta.

Di tengah suasana sejuk nan syahdu tersebut aku mulai memacu kendaraan menuju Satoria Hotel yang ada di Jalan Solo untuk datang ke acara Netizen Jogja Ngobrol Bareng MPR RI.

Netizen Jogja Ngorol Bareng MPR RI
Netizen Jogja Ngorol Bareng MPR RI

Setibanya di Hotel aku sudah bertemu beberapa teman Blogger Jogja. Rasanya seneng bisa ketemu sama mereka semua. Wajar, aku sudah hampir 2 bulan tidak ikut acara gathering blogger.

Buatku acara gathering blogger itu selalu menyenangkan. Bisa ketemu teman baru dan banyak orang hebat di sana. Pokoknya jadi blogger jaman sekarang mah enak. Seru.. Wkwk..

Acara Gathering

Oke sekarang aku mau lanjut bicara soal acara gatheringnya..

Jika mengacu pada jadwal yang sudah diberikan, seharusnya acara dimulai pukul 18.00 WIB dan selesai pukul 21.00 WIB.

Namun pada kenyataannya tidak. Acara harus mundur karena pesawat yang ditumpangi oleh pak Sesjen MPR RI delay. Wajar sih memang karena cuaca Jogja hujan sejak sore.

Sambil menunggu pak Sesjen datang, kita memanfaatkan waktu untuk registrasi, makan malam dan pastinya kenalan yang dipandu sama mbak Mira Sahid dan mbak Nurliya.

Netizen Jogja MPR RI
Mbak Mira – Mbak Nurliya

Kamu udah kenal sama mbak mira belum? itu lho blogger kondang yang juga founder dari Kumpulan Emak Blogger (KEB). Hehe..

Oh iya, ketika registrasi kita dapat tas coklat yang isinya kaos acara, buku saku UUD 1945, buku saku TAP MPR, notebook sama bolpen. Menurutku isi tas nya benar-benar menarik dan bermanfaat banget.

Netizen Jogja bareng MPR RI
Kenang-kenangan dari MPR RI

Waktu terus berlalu dan semakin malam. Akhirnya sekitar jam 7 malam, pak Sesjen MPR RI, Ma’ruf Cahyono hadir ke ruangan didampingi oleh Kepala Biro Humas MPR, ibu Siti Fauziah dan Kepala Bagian Pengolahan Data Sistem Informasi (PDSI) Biro Humas MPR, Andrianto.

Suasana yang sebelumnya rame pake nyanyi-nyanyi, mendadak sepi.. wkwk..

4 Pilar Kebangsaan

Sebelum aku coba bahas tentang 4 pilar kebangsaan yang kemarin sempat dijelaskan oleh pak Ma’ruf Cahyono, Sesjen MPR RI, aku mau tanya: “Kamu orang Indonesia tau ga soal 4 pilar kebangsaan?

Baca Juga:   Tjokro Style Yogyakarta, Hotel Unik Yang Penuh Gaya

Kalau kamu seorang PNS atau yang baru saja ikut tes CPNS, apakah kamu juga mengerti dan tahu soal 4 pilar kebangsaan?

Oke, jadi menurut pak Ma’ruf Cahyono, sebagai orang Indonesia kita itu seharusnya mengerti dan paham tentang 4 pilar kebangsaan.

Kenapa?

Bukan karena pak Ma’ruf Cahyono itu Sesjen MPR RI, tapi karena 4 pilar kebangsaan ini merupakan dasar dan penyangga yang kokoh untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yang sudah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Netizen Jogja MPR RI
Pak Sesjen MPR RI, Ma’ruf Cahyono

Menurut pak Ma’ruf, Pancasila adalah sistem nilai yang sangat abstrak. Sistem nilai ini digali dari budaya kita sendiri. Dan, kalau Pancasila ini urai satu persatu isinya sangat bagus.

Keempat pilar kebangsaan ini sangat terkait dan berhubungan erat. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan kuat kalau ketahanan ideologi kuat. Begitu sebaliknya, kalau ketahanan ideologi lemah maka  NKRI lemah.

Pancasila

Sejak kecil kita sudah dikenalkan dengan Pancasila. Setiap upacara bendera hari senin kita selalu mendengarkan hal tersebut. Kenapa gitu? Karena Pancasila itu penting.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 
  2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, 
  3. Persatuan Indonesia, 
  4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, 
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Seperti yang dikatakan oleh pak Ma’ruf, Pancasila itu sistem nilai yang sangat abstrak, namun jika urai satu persatu isinya sangat bagus.

Buatku dengan mengamalkan Pancasila dikehidupan sehari-hari mulai dengan saling menghargai, gotong royong, tidak saling membedakan, hingga membantu seseorang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan kita itu sudah cukup. Cukup untuk membuat kita kuat

UUD 1945

Dengar kata UUD 1945 tidak lepas dengan buku yang isinya pasal-pasal. Ya kan? Udah ngaku aja.. haha

Menurutku UUD 1945 ini merupakan salah satu instrumen yang harus digunakan sebagai pijakan kita dalam berbangsa dan bernegara. Tidak perlu kita hapal pasal-pasal lengkap dengan perubahannya. Tapi cukuplah kita paham akan apa yang ada pada pembukaan UUD 1945, maka kita akan bisa menjadi seorang yang mengerti cara untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika

Pilar yang sangat penting, namun cukup terasa sedikit hilang di era sekarang adalah “Bhinneka Tunggal Ika“.

Jujur, aku sendiri sedih melihat banyak orang yang menganggap dirinya paling baik dan benar, bahkan tidak jarang disebut dengan radikal. Seakan tidak tahu apa yang namanya “Bhinneka Tunggal Ika

Sebenarnya buat apa sih kaya gitu? Perbedaan itu membuat kita kaya dan besar lho. Aku kangen dengan Indonesia yang dulu (jaman aku masih kecil).. Hidup berdampingan dengan saling menghargai tanpa menyakiti dan menakut-nakuti.

NKRI

Pilar keempat adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Negara Indonesia itu merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau yang terpisah, terdiri dari banyak budaya, bahasa, suku, agama, RAS dan golongan.

Indonesia itu kaya, ia benar-benar kaya. Sebagai negara yang kaya, pasti banyak pihak yang ingin memanfaatkannya, bahkan ingin memecah belah. Oleh karena itu kita punya pilar NKRI.

Kata “KESATUAN” yang ada seharusnya sudah bisa menjadi cara untuk kita tidak terpecah belah.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan kuat kalau ketahanan ideologi kuat. Begitu sebaliknya, kalau ketahanan ideologi lemah maka  NKRI lemah.”

Sesjen MPR RI, Ma'ruf Cahyono
Foto Bareng Pak Sesjen MPR RI, Ma’ruf Cahyono

***

Pertanyaannya…

Apakah kamu sudah siap mengaplikasikan 4 pilar kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari belum?

Ada pesan penting yang ingin disampaikan oleh MPR RI di sini. Tahun ini hingga pemilihan presiden tahun depan memang panas dan rawan akan gesekan, tapi cobalah untuk tetap memegang teguh 4 pilar kebangsaan yang sudah diperjuangkan oleh para founding fathers Indonesia. Jangan sampai politik membuat kita menjadi saling berkelahi dan saling membenci.

Baca Juga:   Mengenal Lebih Dekat Hokben Tokyo Bowl, 5 Varian Menu Baru Dari Hokben
Ngobrol Bareng MPR RI
Foto Bareng MPR RI Selesai Acara Ngobrol Bareng

Perbedaan itu biasa, tetaplah berusaha untuk menjadi pribadi yang Indonesia. Kita cukup berpegang teguh pada ideologi Pancasila dan UUD 1945 dan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan karena walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua (Bhinneka Tunggal Ika).

Oh iya, NKRI itu kan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu kesatuan, ga perlu usaha untuk menjadikan kita terpecah dan terkotak-kotak. Emang kamu mau yang sudah dipersatukan dengan penuh perjuangan itu harus lepas? Hati ini bisa hancur bagaikan pecahan gelas yang semalam jatuh tersenggol tikus.. 😀

Sudah saatnya kita untuk menjadi warga negara yang cerdas dan bijak. Kalau kata mbak Mira Sahid sih gini..

“Berhenti saling menyakiti, mulailah saling menghargai.

Stop marah-marah, mulailah bersikap ramah.

Berhenti mencari perbedaan, mulailah bergandengan tangan.

Berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat.

Berhenti malas, mulailah bekerja keras.”

Kalau aku sih “YES” mbak.. Sederhana namun bermakna…

Ga nyesel udah diajak ngobrol bareng MPR RI tentang 4 pilar kebangsaan. Diskusi kemarin semakin membuka mataku tentang keberagaman INDONESIA. Terima kasih MPR RI..

2 Comments

  1. Sapti nurul hidayati December 10, 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.